Rss

Minggu, 21 Juli 2013

Awas, Ini Penyebab Kematian Mendadak di Usia Muda

Sekarang ini tak jarang orang yang lebih muda mengalami kematian mendadak, hal tersebut tak terlepas dari peranan gaya hidup sehingga membuat daya tahan tubuh tidak stabil dan kematian mendadak pun dapat menyerang orang di usia muda. Meskipun zaman dulu kematian mendadak lebih lebih kepada orang yang di usia tua. Sudah seperti yang kita tahu sekarang ini banyak sekali hal-hal yang dapat membuat orang tidak stabil kesehatannya, orang muda lebih sering terkena serangan jantung.

Gaya hidup yang bebas membuat pembuluh darah koroner jantung menjadi sempit dan plak yang terbentuk karena adanya timbunan kolesterol yang tinggi di dalam darah, oleh karena itulah gaya hidup mereka yang tidak sehat harus di rubah agar lebih sehat dan alami. Seperti seringnya merokok, malas berolahraga, makan tidak teratur, pengkonsumsian lemak berlebih, membiarkan timbunan kolesterol terlalu tinggi bahkan tingginya stres yang juga menjadi beberapa faktor resiko terkena penyakit berbahaya.


Seorang spesialis Jantung SHI di SHKJ bernama dr Antono Sutandar, SpJP, FACC, FSCAI, FAMS, FIHA menjelaskan bahwa jantung adalah rumah untuk hidup di dalamnya memiliki komponen yang berbeda-beda. Pertama adalah sistem listrik yang bertujuan untuk memerintahkan bagaimana jantung mampu berfungsi dengan baik.

Selain itu dr Antono juga menjelaskan bahwa komponen yang tak kalah penting lainnya yang harus diperhatikan adalah pembuluh darah karena ini memberikan makanan kepada otot jantung, sementara komponen yang ketiga yakni struktur jantung karena ini berfungsu sebagai tempat otot katup dan kamar-kamar jantung di evaluasi.

Tak hanya dari dr Antono saja ternyata juga ada dr Maizul Anwar, SpBTKV, Chairman dan Clinical Leader Siloam Heart Institute (SHI) juga mengatakan bahwa operasi jantung termasuk dalam layanan jantung yang sangat di perlukan bagi masyarakat.

Menurut dr Maizul bahwa operasi jantung masih tergolong sedikit jumlahnya daripada potensi kasus bedah jantung, Jumlah operasi jantung masih 4.000 per tahun sedangkan untuk potensi kasus beda jantung sekitar 20 ribu.

Dr Maizul mengatakan bahwa pasien yang harus menjalani operasi jantung lebih memilih luar negeri daripada Indonesia untuk menjalankannya dan sekitar setengahnya. Kondisi tersebut sudah jelas bahwa orang-orang tak percaya dengan kualitas pelayanan jantung yang ada di Indonesia termauk dengan ketidakmampuan finansial.

0 komentar:

Poskan Komentar